Nasib Pemecah Batu Desa Tenggun, 1 hari Hanya Dapat Rp 10 Ribu

Buten, Nenek pemecah batu

Buten, Nenek pemecah batu

Bangkalan,  Maduranewsmedia.com – matahari pagi itu memancarkan sinar yang cukup, angin sepoi-sepoi menerpa setiap pepohonan di desa Tenggun Laok kecamatan Klampis kabupaten Bangkalan, Madura. Jawa Timur, hilir mudik. Kendaraan yang melintas di jalan desa seolah menjadi selingan musik bagi. Buken (80) yang sehari-harinya bekerja sebagai pemecah batu di desa tersebut, sorot matanya yang mulai redup menatap setiap orang yang melintas di jalan desa itu dengan harapan ada orang yang mau membeli batu krikil miliknya. “Ya Kalau kerja terus menerus sehari saya bisa dapat  2 Bak batu krikil, 1 bak krikil harganya Rp 5 ribu,” kata. Buken kepada Maduranewsmedia.com

Buken yang  bekerja sebagai pemecah batu sejak mulai dari usia remaja itu masih terus menekuni pekerjaanya, karena dia tidak mempunyai keterampilan lainnya selain bekerja sebagai pemecah batu. “Sejak gadis saya. Sudah bekerja pemecah batu ini, mau kerja apa lagi,” tutur Buken.

Dikatakan Buken, setelah memasuki usia tua, dirinya hanya bisa bekerja memecah batu setengah hari saja. “Karena bekerja sendirian, batu yang sudah saya pecahkan jadi batu krikil ini saya tampung selama 15 hari, baru saya Jual,” katanya.

Untuk hasiinya selama 15 hari, buken bisa mengantongi uang Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. “Ya bilang cukup ya cukup, mau gimana lagi,” katanya.

Nenek dengan 6 cucu itu mengharapkan ada perhatian dari pemerintah. “Di desa ini banyak pekerja pemecah batu seperti saya ini, makanya kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah,” pungkas Buken. (hib/shb)

iklan 100x100