10 Orang Warga Bangkalan Terserang Penyakit Difteri, 1 orang Penderita Meninggal Dunia

Petugas Dari Dinkes Bangkalan saat melakukan Profilaksis dengan memberi obat, erytromycin di sekitar rumah penderita Defteri

 

Bangkalan,maduranewsmedia.com– Pada tahun 2019 ini ada 10 orang warga kabupaten Bangkalan terserang penyakit Difteri, dari 10 orang tersebut 1 orang penderita yaitu DF (4) warga alas Kokon kecamatan Modung kabupaten Bangkalan meninggal dunia. Sementara penderita Difetri lainnya adalah RM (14) santriwati salah satu Ponpes di kecamatan Tanjung Bumi dan UR (29) warga desa Kesek Kecamatan Labang. “Pasien Deftri yang postif itu tiga, sisanya masih Suspeck Difteri,” kata Kadinkes Bangkalan, H Sudiyo melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Abd Walid Yusufi, Senin (8/7).

Dikatakan Walid Ysufi, pasien Difteri yang meninggal dunia atas nama DF warga Alas Kokon Modung itu sebenarnya warga jalan Kenjeran Surabaya, namun pada saat lebaran Idul fitrih, penderita bersama keluarganya mudik ke Bangkalan. “Saat mudik itulah, pasien menderita penyakit Difteri yang akhirnya meninggal di RSUD dr Soetomo Surabaya, “ jelas Walid panggilan akrabnya  Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bangkalan ini.

Dijelaskan Walid, Kronologis kasus Difteri yang menimpa pasien DF  itu berawal ketika menjelang lebaran Idul fitrih pada tanggal 4 juni 2019  DF bersama keluragnya dari Kenjeran surabaya pulang ke kampung Halaman di desa Alan Kokon kecamatan Modung kabupaten Bangkalan, ,kemudian pada hari Minggu tanggal 9 juni paska lebaran,  DF bersama keluarga bersilaturrahmi ke sanak keluarganya yang ada di  dusun Gumantra desa Dlemer kecamatan Kwanyar kabupaten bangkalan.  “Pada saat berada di kwanyar, hari Minggu tanggal 16 Juni pasien DF  mulai panas namun masih bisa bermain dan beraktifitas seperti biasa,” terang Walid.

Karena panas dan timbul gejala nyeri telan, kata Walid, lalu pada hari Selasa tanggal 18 juni dibawa ke Perawat Haris di Kawanyar, perawat Haris memberi obat Norvom, Oraprafe dan Baetoprim combe. Namun pada Rabu tanggal 19 Juni pagi, pasien Dafa mengalami pembesaran Kelenjar (bullneck) dan pasien tidak bisa makan dan minum pada malam harinya mengalami sesak nafas (stidor)

Kemudian imbuh Pada hari Kamis  tanggal 20 Juni pukul 06.00 wib, DF dibawa periksa ke Dokter Yulia Kartika di Tanah Merah dan di diagnosa Suspeck difteri sehingga dirujuk ke RSUD Syamrabu bangkalan.  dan pada pukul 09.00 WIB pasien DF langsung dibawa ke Poli anak RSUD Syamrabu, diperiksa oleh Dr Indah Sp,A . “Karena kondisi pasien yang memburuk maka pasien di rujuk ke RSUD Dr Soetomo  Surabaya,” tutur Walid

Kemudian kata Walid, Pada hari Jum,at tanggal 21 Juni, pasien dilakukan tindakan Tracheostomi dan di rawat diruang RIK RS dr Soetomo  diberi ADS 100.000 UI dan Penisilin 1,2 juta dan pada hari minggu tanggal 23 Juni 2019 Pasien AN Dafa meninggal dunia pada pukul 03.30 wib.

Ditambahkan Walid tindakan Penanggulangan yang dilakukan Dinkes Bangkalan pada hari Jum,at tanggal 21 Juni 2019  pukul 12.15 Wib Dinkes bangkalan mendapatkan Informasi dari dinkes Propinsi bahwa ada pasien Difteri AN DF  rujukan dari RSUD Syamrabu Bangkalan, setelah menerima informasi tersebut, Dinkes bangkalan langsung melakukan konfirmasi informasi dari Dinkes Propinsi ke UGD poli anak RSUD Syamrabu untuk mencari alamat pasien DF. “Setelah memperoleh informasi,  kemudian dinkes berkoordinasi dengan puskesmas setempat yaitu Puskesmas Modung,” ujarnya.

Kemudian Pada hari sabtu tanggal 22 Juni petugas Surveilens dan korim puskesmas melakukan pencarian rumah pasien DF dengan mencatat seluruh nama keluarga pasien dan mendata daerah sekitar untuk pemberian propilaksis dan perencanaan pelaksanaan outbreack Respose Imumunizations (ORI) “Di daerah tempat tinggal pasien Difteri kita telah melakukan Profilaksis dengan memberi obat, erytromycin di sekitar rumah penderita terutama bagi keluarga yang menggendong anaknya.serta penyuluhan, begitu juga di daerah pasien fteri yang lain,” pungkasnya.(hib/shb)