Kesejukan  Alam Pegunungan Terasa Di Pesisir Taman Pendidikan Mangrove Bangkalan

 

Presiden/General Manager (GM) Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) Kuncoro Kukuh, saat berada di Taman Mangrove Labuhan

Bangkalan,maduranewsmedia.com – Panas menyengat akibat terik matahari sudah identik dengan suasana kawasan pesisir. Namun tidak dengan alam di pesisir Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan. Kesejukan alam pegunungan begitu terasa di antara kerapatan tumbuh atau kelebatan pohon mangrove.

Kawasan konservasi yang mulai dijadikan lokasi penelitian untuk bahan skripsi mahasiswa di Jawa Timur dan para peneliti burung migran itu, dikenal dengan sebutan Taman Pendidikan Mangrove.

Di usianya yang kini beranjak empat tahun, hamparan 17 jenis pohon mangrove semakin tumbuh menjulang tinggi dan saling berdekatan. Sehingga, selain menciptakan suasana sejuk,  pemandangan menjadi lebih eksotik. “Pantai biasanya gersang dan panas. Tapi ini dipenuhi tanaman, sejuk dan segar. Seolah berada di kawasan pegunungan,” kata Presiden/General Manager (GM) Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) Kuncoro Kukuh, Senin (2/10/2017).

Kehadiran Kukuh, begitulah ia akrab disapa merupakan kali kedua. Sebelumnya, ia datang pada Jumat (4/8/2017). Setelah sekitar dua bulan dirinya menjabat sebagai GM.

Dijelaskan Kukuh, tujuan awal dalam upaya perlindungan dan pengelolaan terhadap lingkungan dan sumber daya alam di kawasan pesisir Desa Labuhan mulai nampak “Ini sangat sehat dan harus terus dijaga. Oksigen dan segala macam terpenuhi. Kelestarian perlu dirawat. Tunjukkan bahwa kita peduli,” jelas pria asal Semarang, Jawa Tengah itu.

Ia menegaskan, lebih menginginkan suatu kondisi alam yang natural dan orisinil. Tanpa dikotori dengan bangunan fisik hasil buatan manusia  “Lebih bagus jika alamiah, padat pohon, dan sauna alami hutan. Biarkan ekosistem yang memainkan perannya,” tegasnya.

Untuk itu, ia meminta penerapan aturan penjagaan lingkungan benar-benar dijalankan dengan tegas. Apalagi, Taman Pendidikan Mangrove mulai menjadi destinasi penelitian dan wisata alam pesisir  “Karena begitu (aturan) sudah kendor, sulit untuk kembali. Gencarkan sosialisasi sehingga para pengunjung dan warga sekitar merasa ikut memiliki,” pungkasnya.

Pengembangan Taman Pendidikan Mangrove dipelopori PHE WMO di tahun 2014. Memiliki luas sekitar tujuh hektare. Seluas 3,5 hektare di antaranya telah ditanami 17 jenis mangrove.

Di antaranya jenis mangrove Sonneratia Alba (Prapat), Rizhophora Stylosa, Stenggi, Rhizopora Apiculata, Sonneratia Alba, Rhizophora Mucronata, Ceriops Tagal, dan Avicenna Marina.

Sekretaris Kelompok Tani (Poktan) Cemara Sejahtera Moh Syahril mengungkapkan, lokasi wisata mangrove setiap hari dibuka untuk umum mulai 07.00 hingga 17.00. “Selama jam sekolah, kami tidak memperbolehkan anak-anak ke sini. Apalagi berpakaian seragam. Kecuali hari libur,” ungkap mantan TKI Malaysia itu.

Untuk urusan kebersihan di kawasan mangrove, Syahril berbagi tugas dengan anggota lainnya. Kini, Poktan Cemara Sejahtera beranggotakan 60 orang. Sebanyak 23 orang di antaranya, mantan TKI.  “Sampah-sampah pengunjung kami kumpulkan di beberapa titik penampungan. Setelah menumpuk, kami angkut ke luar lokasi,” pungkasnya.(hib/shb)

iklan 100x100