Kisah Perjuangan Satu Keluarga Pasien Covid-19 Di Bangkalan Yang Sembuh Melawan Virus Corona

Pasien Covid-19 Didik Yanuardi saat menjalani isolasi di RSUD Syamrabu Bangkalan

Bangkalan,maduranewsmedia.com- Satu Keluarga di kabupaten Bangkalan terpapar covid-19, setelah menjalani isolasi di rumah sakit Sarifah Ambami Ratoh Ebu (Syamrabu) Bangkalan selama hampir 1 bulan, satu keluarga yang terdiri dari isteri, anak dan mertua-nya itu kini sudah dinyatakan negatif atau sembuh. seperti apa perjuangan untuk sembuh dalam melawan virus Corona Covid-19 itu ?  

Didik Yanuardi (47) warga jalan  KH Moh Kholil Kelurahan Kemayoran kecamatan kota kabupaten Bangkalan adalah kepala keluarga yang divonis terpapar virus Corona Covid-19. dia menceritakan awalnya dirinya terpapar. “Pukul 00 WIB dini hari, Handphone saya  berdering, ibu Direktur Syamrabu, dr Nunuk Kristiani  mengabarkan jika  saya positif terpapar virus Corona (covid-19), ya setelah menerima kabar dari ibu Direktur itu keringat dingin bercucuran mas, dan mental saya sempat down waktu itu,” kata pasien Confirm  ke 484 Covid-19 yang sudah sembuh, Didik Yanuardi, Ahad (11/10/2020).

Dikatakan Didik, pada siang harinya dirinya melakukan rapid tes yang hasilnya reaktif, karena masih ragu dengan hasil rapid tes, pada pukul 22 wib dirinya berangkat ke RSUD Syamrabu  untuk melakukan swab karena pada waktu itu badannya merasa tidak enak. “Saya diarahkan untuk tes swab saja biar valid,  karena kalau rapid tes kan hasilnya masih fivety- fivety,  pada saat di swab, ibu Direktur berkata kepada saya nanti hasilnya akan di kabarkan, karena dengan alat swab ini hasilnya  cepat, artinya  dalam 1 jam hasilnya sudah bisa ketahui,” jelas Didik sapaan akrabnya Kabid Dayasos Dinas sosial kabupaten Bangkalan.

Sedihnya kata Didik, isterinya yang juga melakukan tes swab dinyatakan positif. “Setelah menerima kabar itu saya berusaha menenangkan diri dan membaca istighfar, sesuai arah ibu Direktur Syamrabu saya lalu kemas-kemas baju,  tepat pukul 2 malam saya bersama isteri saya pamit orang tua, saya berangkat ke Rumah sakit untuk menjalani isolasi di paviliun Kartini RSUD  Syamrabu,” terangnya.

Dijelaskan Didik, setelah dirinya dan isterinya menjalani isolasi, kemudian petugas kesehatan melakukan tracing terhadap keluarganya. “Setelah saya dan isteri menjalani isolasi, pada pagi harinya, anak saya 3 orang dan ibu mertua total keluarga saya dirumah 4 orang langsung diswab, hasil swab keluarga saya keluar, ternyata anak saya yang bungsu dan mertua positif covid-19 Alhamdulilah anak saya yang 2 negatif. jadi anak bungsu dan mertua langsung dijemput oleh petugas untuk isolasi di RSUD Syamrabu. kamar isolasinya dipisah, anak saya dengan ibu mertua, sementara saya sekamar dengan  isteri,” tuturnya.

Untuk menghilangkan kejenuhan selama menjalani islolasi di RSUD selama hampir 1 bulan, banyak hal yang dilakukan oleh Didik, “Selama isolasi, yang pertama saya harus tenangkan diri biar saya cepat sembuh, terus aktivitas lainnya pagi sekitar pukul 7.00 wib saya berolah raga terus berjemur, ya setelah itu saat berada didalam kamar saya menonton TV sambil lari-lari kecil, kadang mengepel biar keluar keringat  dan setelah Dzuhur saya membaca Al-qur,an hingga waktu Magrib tiba, alhamdulillah selama menjalani isolasi saya bisa menghatamkan Al-Qur;an,” katanya.

Tempat isolasi dengan fasiltas hotel bintang 3 ini tidak membuat Didik betah. “Sebenarnya ya saya ngak kerasan, namun dibetah-betahkan, meskipun tempat isolasi di RSUD Syamrabu itu fasilitasnya seperti hotel  bintang 3 tapi di rumah sakit. ya selama menjalan isolasi  saya anggap  cuti atas ijin dari Allah, saya jalani dengan  enjoy dan menikmati, malah pikiran saya lebih fres karena saya harus menenangkan pikiran saya, HP saya matikan. kalau perlu sesuatu baru hp saya hidukan,” kisah Didik.

Setelah menjalani Isolasi hampir 1 bulan, Didik dinyatakan negatif dan sembuh. “Hari Rabu saya di swab, setelah magrib pukul 19..00 wib  saya dinyatakan negatif, saya sujud syukur, lalu diswab lagi negatif,  saya langsung pulang, saya 5 kali swab, diluar swab yang pertama, sekarang saya harus menjalani isolasi dirumah selama 14 hari,” katanya.

setelah kembali kerumahnya mantan comfirm Covid-19 ini sempat dikucilkan oleh para tetangganya. “Masyarakat kita ini multi kultur, ada masyarakat yang wawasannya kurang, jadi pas kita lewat mereka lari mengindari saya, kalau masyarakat yang berwawasan luas, ya biasa saja, tapi mental saya sudah siap kok,” ujarnya.


Ditambahkan Didik pada awal divonis terpapar virus Covid-19, Ia merasa kaget dan tidak menyangka bisa terpapar virus Corona. “Setelah divonis perasaan saya kaget dan ngak menyangka, karena saya sudah melaksanakan dispilin protokol  kesehatan, seperti memakai masker, kemanapun pergi APD sudah saya siapkan, seperti masker, handsanintizer kacamata pelindung, topi,  sarung tangan, tapi saya kok masih terpapar juga, gejala awal yang rasakan pada saat poitif terpapar itu kehilangan penciuman, jika seseorang tidak bisa mencium bau, kalau sudah memiliki gejala seperti itu harus swab. saya kemarin, kehilangan penciuman selama 2 hari.  parfum saja ngak bau,” katanya.     .

Mantan Comfirm covid-19 kabupaten Bangkalan ini menghimbau kepada masyarakat untuk tetap disiplin melakukan protokol kesehatan. “Tetap melakukan protokol kesehatan untuk menjaga diri,  dan kalau ada masyarakat yang positif terpapar covid-19, tenang saja, jangan down,  karena kemarin ada teman saya yang kena Covid dan down  sampai masuk ke ICU kalau  sudah masuk ICU virus masuk ke paru-paru dan penanganannya agak sulit. selama menjalani isolasi  perbanyaklah ibadah, tenang, makan makanan yang bergizi, minum vitamin, minum anti virus, pola bersih hidup dan sehat, mandi dan cuci tangan, jagan menonton TV yang menyiarkan berita-bertia Covid, biar mentalnya tidak bertambah down,” pungkasnya. (hib/shb).