Makam Aaermata Arosbaya

aer-mataBangkalan,MaduraNewsmedia.com – Makam Aer Mata tempat pemakaman raja-raja Bangkalan yang berada di dusun Aermata Desa Buduran kecamatan Arosbaya ternyata banyak menyimpan misteri bagi penziarah. Untuk menuju ke tempat persemayaman terakhir raja-raja Bangkalan itu, penziarah harus melewati tiga pintu utama, dimana pada masing-masing pintu memiliki keistimewaan tersendiri. “Konon jika orang melewati pintu pertama yaitu Labeng Mesem (Indonesia pintu tersenyum red), maka penziarah yang telah lewat pintu itu mesti tersenyum, meskipun mereka (penziarah red) mempunyai masalah. itu salah satu keistemewaan pintu pertama makam Ratoh Ebuh Aermata,” jelas Kades Buduran, Abd Aziz.
Setelah masuk pintu Mesem, untuk bisa masuk ke tempat makam utama yaitu makam Syarifah Ambami Ratoh Ebuh, penziarah harus melewati pintu kedua, yakni pintu Mellek dan pintu ketiga yang dinamakan pintu Raksa. “Jadi kalau mau berziarah ke makam Ratoh Ebuh, masuk pintu pertama tersenyum, lalu Mellek (melihat-lihat red) dan kemudian dirasakan (Raksa),” timpal Juru kunci makam Aermata, Mohammad Zuhri.
Tak hanya tiga pintu yang memiliki keistimewaan yang membuat makam Aermata di kecamatan Arosbaya tersohor dan banyak dikunjungi umat islam, akan tetapi banyak penziarah yang terkabul keinginannya setelah berziarah ke makam Ratoh Ebuh itu. “Yang saya dengar penziarah itu banyak sukses, ya mereka hanya membaca fatihah dan bertawassul ke makam Ratoh Ebuh ini,” terang Mahammad Zuhri.
Juru kunci makam raja-raja Bangkalan itu kemudian menceritakan asal usul nama kampung Aermata yang kemudian dijadikan tempat persemayaman terakhir para keturunan raja Bangkalan ini. Konon kata Muhammad Zuhri, Syarifah Ambami ratoh ebuh yang selalu ditinggal suaminya Pageran Cakraningrat I suaminya bertugas di kerajaan Mataram selalu bersedih..
Dalam masa kesedihan itulah, Syarifah Ambami Ratoh Ebuh sellau mengisi hari-harinya dengan bertapa atau bersemedi di desa Buduran Arosbaya. Pada saat bertapa itulah Syarifah memohon kepada yang Tuhan maha kuasa agar Bangkalan di pimpin oleh keturanan Pageran Cakraningrat hingga ke tujuh turunannya. “Pada saat bertapa ratoh Ebuh konon bertemu dengan nabi Hidir, dan nabi Hidir mengabarkan jika permintaan Syarifah Ambami ratoh Ebuh dikabulkan oleh Allah,” jelas Mohammad Zuhri.
Namun lanjut Mohammad Zuhri, setelah hasil pertapaan itu diceritakan kepada suaminya, malah suaminya memarahinya, kenapa hanya minta sampai tujuh turunan saja, lalu kemudian Syarifah kembali bertapa dan menyesal lalu menangis hingga air matanya membanjiri di sekililing tempat pertapannya. “Lalu kemudian tempat Syarifah bertapa ini dinamakan Aermata (air mata Red).
Kemudian setelah Syarifah meninggal dunia, dikuburkan ditempat pertapannya. Tidak hanya Ratoh Ebuh saja yang dikubur ditempat tersebut, akan tetapi keturunanya Pangeran Cakraningrat dan raja-raja Bangkalan yang lain dimakamkan ditempat tersebut. “Namun sejak tahun 1976, keturunan Pangeran cakraningrat dan raja-raja Bangkalan yang lain tidak dikubur di makam Aermata ini, karena makam ini pengelolaanya telah diserahkan ke pemerintahan purbakala,” tutur Mohammad Zuhri.
Saat ini, makam raja-raja Bangkalan Aermata, banyak dikunjungi penziarah dari luar kota, lebih setiap akhir pekan, tepatnya hari Sabtu dan Minggu warga banyak penziarah mengunjungi tempat wisata relegius Pesarean raja-raja bangkalan itu. Setidaknya, setelah adanya jembatan Suramadu ada sekitar 5 sampai 10 bus wisata yang mengunjungi tempat raja pertama bangkalan di semayamkan. “Kalau dulu sebelum ada Suramadu paling dalam satu minggu hanya ada 1 bus yang berkunjung ke sini pak,” kata salah seorang penjual rujak di kawasan pesarean aer matah, Bu Suliha.
Para pengunjung biasanya datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia, seperti dari Bogor, Jogja, Probolinggo, Depok, Banjarmasin, Palangkaraya dan kota-kota lainnya. (hib/shb)

iklan 100x100