HEADLINEPERISTIWAPOLITIK & PEMERINTAHANTERKINI

Diguyur Hujan Selama Dua Hari, Puluhan Hektar Sawah Yang Sudah Ditanami Padi Di Dua Desa Terendam Banjir

Para petani saat membersihkan saluran air

 

Bangkalan,maduranewsmedia.com– Intensitas hujan yang cukup tinggi selama dua hari membuat puluhan hektar sawah yang sudah ditanami di dua desa yaitu di desa Burneh dan Desa Langkap kecamatan Burneh kabupaten Bangkalan terendam banjir. Puluhan hektar sawah yang terendam itu berada di dusun Karang Anyar desa Burneh dan dusun Karang Bimas desa Langkap. Agar supaya tanaman padi itu tidak rusak para petani di dua desa tersebut berupaya membersihkan saluran air di pematang sawah mereka. “Kalau ngak dialirkan air ngak cepat surut, kalau ngak surut tanaman padi ini bisa rusak,” kata Mohammad Petani dusun Karang Anyar, Rabu (01/05/2019).

Dikatakan Mohammad, selain bisa merusak tanaman padi yang baru ditanam itu, kalau air yang menggenangi sawah  tidak segera dialirkan, maka juga bisa menghambat pada waktu tanam. “Bibit padi yang sudah dicabut dari uritan ini, kalau ngak segera ditanam bisa mati, benih yang sudah dicabut dari persemaian sudah waktunya untuk ditanam,” jelas Mohammad.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikulturan dan Perkebunan kabupaten Bangkalan, Abdullah Fanani melalui kabid Tanaman Pangan H Geger Hery Susianto mengatakan, tanaman padi yang terendam air itu tidak ada masalah dan tanaman padi tersebut akan tumbuh dengan baik. “Kalau tanaman padi yang terendam itu sudah berumur 1 minggu hingga 1 bulan, masih bisa tumbuh dengan baik, asalkan genangan air yang menggenang tidak lama,” jelas Geger panggilan akrabnya Kabid Tanaman pangan ini.

Namun kata dia, jika genangan air yang menggenang tanaman padi yang baru ditanam itu melebihi 1 minggu maka, tanaman padi itu akan rusak. “Ya kalau genangan air itu lebih 1 minggu, tanaman padi itu bisa puso. Ya puso dalam artian rusak bukan puso gagal panen,” terang Geger.

Dijelaskan Geger, kalau nanti tanaman padi petani di dua desa itu memang rusak akibat genangan air, maka pihaknya akan berusaha untuk mengganti bibit bagi petani yang tanamannya rusak akibat banjir. “Ya kalau memang rusak, Dinas Pertanian tanaman Pangan bisa mengganti benih kepada petani. Ya dananya bisa diambilkan dari APBD kabupaten bisa diambilkan dari APBN,” tuturnya.

Ditambahkan Geger, Pada musim tanam kedua ini sesuai prediksi, curah hujan mulai berkurang, namun pihaknya juga bingung kenapa curah hujan pada musim tanam kedua ini intensitasnya semakin tinggi. “Biasanya pada bulan April ini hujan mulai berkurang, sebab akhir Maret hingga memasuki bulan April kita sudah masuk ke musim tanam kedua,” paparnya.

Tapi kata Geger, adanya hujan yang semakin tinggi pada musim tanam kedua menguntungkan bagi petani. “Petani kita masih bisa diuntungkan karena lahan yang akan ditanami semakin luas. Namun untuk sawah yang terendam banjir itu, para petani harus membersihkan selokan agar air bisa mengalir dengan lancar dan air yang menggenangi tanaman  cepat surut sehingga tanaman padi tidak sampai rusak,” pungkasnya. (hib/shb)