HEADLINEPERISTIWATERKINI

Mulai Punah, Tradisi Tahunan Masyarakat Desa Jaddih Tanpa Cikar Hias

salah saru peserta lomba Dokar hias
salah saru peserta lomba Dokar hias

Bangkalan, maduranewsmedia.com– Tradisi tahunan dokar dan cikar hias dalam menyembut lebaran ketupat yang digelar oleh masyrakat desa Jaddih pada tahun ini tanpa adanya Cikar atau pedati hias. Tradisi yang digelar oleh masyarakat di tiga desa yaitu desa Parseh, jaddih dan Bilaporah kecamatan Socah itu berbeda dengan dengan tahun- tahun sebelumnya. “Mana Cikarnya kok tidak ada, kok hanya dokar saja,” kata Arif salah seorang pengunjung acara Pesta rakyat dan silaturahmi warga desa Parseh, jaddih dan socah yang digelar di depan pasar jadih, Rabu (13/07).

Salah seorang panitia pelaksana, Abas menyatakan, pihaknya tetap akan melestarikan tradisi  tahunan berupa lomba dokar dan cikar hias yang digelar oleh tiga desa di kecamatan Socah ini. “Meskipun sudah modern, saya minta kepada masyarakat di tiga desa ini untuk tidak menjual dokarnya. Mari kita lesatrikan radisi tahunan ini dan jangan dijual dokarnya,” kata Abas.

Abas mengakui jika pelaksanaan lomba dokar dan cikar hias yang merupakan tradisi masyrakat di tiga desa ini lebih meriah dari tahun sebelumnya. “ Pesertanya ada sekitar 30, namun pada tahun ini tidak ada cikar hias, transportasi Cikar disini sudah mulai  pubah,” terangnya.

Salah seorang tokoh masyrakat desa Jaddih, Imam Syafii mengatakan, pada zaman dahulu, kendaraan yang dihias dan dikutkan lomba pada tradisi tahunan yang digelar masyrakat desa Parseh, jaddih dan Bialporan ini murni dikar dan Cikar. “Kalau dulu kendaraan yang dikutkan itu murni dokar dan cikar, sekarang sudah di campur-campur, ada colt pic-up dan ada motor odong-odong,” jelas Imam Syafii.

Dijelaskan dia, dulu kendaraan yang diikutkan dalam lomba ini merupakan kendaraan yang mengangkut baru dari gunung kepada pekerja kapur. “Kalau dokarnya itukan menganngkut masyarakat desa yang ingin pergi ke kota bangkalan sampai di Klobungan, sementara Cikar yang ditarik sapi itu mengangkut batru dari gunung jaddih ke para  pengrajin batu kapur,:” tuturnya.

Ditambahkan Imam Syafii, pada awalnya tradisi tahunan masyrakat desa Jaddih, paresh dan Bilaporah ini tidak ada yang mengkoordinir. Masyrakat yang memiliki angkutan cikar dan dokar kalau hari raya ketupat tanpa dikomando, mereka menghias dokar dan cikarnya sendiri. “Taridisi tahunan ini yang mulai dikordinir sejak tahun 1985,  dului tidak ada orkesnya, dan tidak dilombakan seperti sekarang ini,” katanya.

Dikatakan Imam Syafii, tradisi tahunan cikar dan dokar hias ini sebenarnya merupakan ajang silaturahmi, dan juga sebagai bentuk penghormatan kepada masyrakat desa yang ingin kembali ke perantauannya. “Jadi masyrakat desa jaddih yang merantau jauh tidak berangkat sebelum lebaran ketupat dan menyaksikan cikar dan dokar hias ini,” pungkasnya. (hib/shb)