Rektor UTM Nilai Belum Ada Pengaruh Pengratisan Jembatan Tol Suramadu

 

Rektor UTM Muh Syarif dalam acara FGD & Media Gathering Universitas Trunojoyo

 

Bangkalan,maduranewsmedia.com– Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Muh Syarif menilai belum ada pengaruh pengatisan tol Suramadu terhadap perekonomian di Madura. “Saya rasa belum memberikan pengaruh yang signifikan dampak ke kita pengratisan tol Suramadu itu, kita sudah 10 tahun memiliki jembatan Suramadu, ini harus dievaluasi mendalam dengan 4 bupati  se madura untuk segera melakukan komunikasi tindak lanjutnya paska pengratisan suramadu,” kata Mu Syarif disela-sela-acara FGD & Media Gathering Universitas Trunojoyo, Bersama Media mencetak Generasi yang berkualitas di Gedung Graha Utma UTM, Kamis (06/12/2018).

Dikatakan dia, jika 4 Bupati di Madura tidak segera melakukan komunikasi, maka 10 kejadian sebelum pengratisan tol suramadu akan terulang lagi. “Kalau menurut saya, segera membuat terobosan bagaimana mengembangkan potensi yang ada di Madura dulu, segera kembangkan, focus saja,” jelas Syarif panggilan akrabnya Rektor UTM ini..

Dijelaskan dia, dengan adanya Pengratisan tol Suramadu ini, pihaknya mengaharapkan 4  Bupati di Madura membuat strategi dan kebijakan yaitu suatu daerah yang ramah dengan investasinya. “Saya harap   4 kabupaten se madura, menjadi daerah yang paling ramah dengan investasinya, sehingga investasi bisa masuk  ke madura,  saya yakin dengan adanya industri di Madura, maka pergerakan investor akan bagus,” terangnya.

Ditambahkan Muh Syarif, ada sejumlah kendala untuk mempercepat proses pembangunan di Madura paska pengratisan tol Suramadu. “Salah satu hal menjadi kendala adalah sulitnya 4 bupati di Madura untuk berkomunikasi, makanya saya harap 4 bupati yang baru bisa bersinergis ada komunikasi yang intens dan UTM siap menjadi bagian dari itu semua,” tuturnya.

Tentang masalah apa saja yang akan dilakukan Madura ke depan kata Syarif, kajiannya sudah ada di Madura desain semua. “Sekarang tingal bagaimana  4 bupati di Madura ini ketemu membuat komitmen, saya lebih cendrung kalau pembangunan Madura di 4 kabupaten menjadi suatu kawasan bukan lagi model  Gebangkertasusila, sehingga menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan-pisah satu sama lain, makanya kalau    Budaya, harusnya ada satu, yaitu visit Madura, bukan vist per kabupaten,” katanya.

Untuk focus pengembangan di Madura lanjut Syarif, bisa focus di jagung, garam, wisata, migas dan sapi “5 aja focus 4 kabupaten ini akan terasa hasilnya contohnya di banyuwangi focus wisata, kalau focus ke 5 hal itu nanti akan ada pabrik pengelohan garam, pabrik pengelohan jagung, sapi yang dijual dari madura harus sapi yang sudah diproses disini. Makanya .masa konsolidasi pembangunan di madura ini tidak perlu  lama lama paska nol persen jembatan Suramadu,” ujarnya.

Namun kata dia, 4 bupati di Madura harus tetap berupaya meminta ke pemerintah pusat sebagai political wil. “Makanya kami kemarin menginisiasi bagaimana kita mengusulkan agar ada bagian infrastruktur yang bisa dialokasikan ke Madura,  dari Rp 420 Triliun inrafstruktur, ngak ada yang dialakasikan ke Madura ini masalah, dan ini harus dievaluasi sehinga Presiden bisa mempertimbangkan usulan, karena untuk mengembangkan infrastuktur awal di Madura hanya butuh Rp 55 Triliun,” pungkasnya. (hib/shb)