Perjuangan Kadinkes Bangkalan Dalam Menurunkan Peta Sebaran Covid-19

Plt Kadinkes Bangkalan, H Sudiyo

Bangkalan,maduranewsmedia.com- Tumpukan kertas yang berisi catatan catatan dan agenda pekerjaan masih menumpuk di meja kerjanya.  Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal bulan Maret 2020 telah menyita waktu dan menguras pikiran pria berumur 53 tahun ini. sambil menghabiskan air mineral yang tersisa separuh dalam gelas itu, dia melihat peta sebaran Covid-19 yang sudah 8 bulan bergelut dengan virus asal Wuhan itu.”Dalam berkerja ini saya niatkan ibadah, saya membantu, menfasilitasi masyarakat, bagaimana tenaga saya pikiran saya bermanfaat bagi masyarakat termasuk dalam menangani Covid-19 ini,” kata pria Kelahiran Gresik yang merupakan  Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Bangkalan, H Sudiyo.

Pada awal bulan April 2020 ketika ditemukan 1 kasus poistif Covid-19, pria yang mengawali kariernya sebagai Staf di Puskesmas pembantu Desa Gigir kecamatan Blega kabupaten Bangkalan ini terus melakukan upaya pencegahan dan pengereman laju Covid-19, namun upaya yang dilakukan seolah-olah membentur tembok, penyebaran Covid-19 semakin massif. ”Saya bekerja selama 24 jam penuh diawal awal Covid-19 dulu,” kisah Yoyok sapaan akrabnya Kadinkes Bangkalan sambil memperbaiki letak kacamatanya.

Putus asakah Yoyok ? ternyata tidak, pria 5 orang anak ini terus bergelut melawan virus Corona Covid-19. tracing dan testing serta pencarian kasus baru terus dilakukan, semua waktunya tersita baik waktu buat keluarganya dan juga waktu untuk melayani pasien-pasienya ditempat dia membuka praktek. “Keluarga saya, saya nomer dua-kan, tugas yang saya nomer satukan dan, jiwa saya terbentuk seperti itu sejak dulu,” tutur Yoyok.

Persoalan-persoalan Covid-19 sudah menjadi menu sehari-hari bagi Yoyok, sejak masa pandemi seolah tidak ada waktu jeda bagi dia hanya untuk bisa bercengkrama bersama keluarganya, semua waktunya tersita untuk penanganan Covid-19, lebih-lebih ketika ada pasien positif Covid yang meninggal dunia, Yoyok harus mengawal pasien itu sejak dari pemulasaran jenazah hingga ke tempat pemakaman.

Pengawalan itu dilakukan karena seringkali terjadi kasus penolakan jenazah korban covid-19 ketika  tiba ditempat pemakaman.”Penolakan jenazah Covid-19 yang mau dikuburkan ini menjadi malapetaka, sehingga kita harus mengawal mulai dari pemulasaran jenazah, terutama jenazah korban Covid-19 yang dari luar Bangkalan seperti dari Surabaya. kita kawal  hingga selesainya pemakaman,” ujar pria yang sudah 28 tahun menggeluti dunia kesehatan ini. 

Perasaan optimis untuk mengerem laju Covid-19 tidak pernah pupus dari Alumni Untag Surabaya ini, dengan semangat dia terus melakukan upaya-upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai penyebaran dengan intens melakukan pencarian penderita baru. “Pencarian dan penemuan pencarian kasus-kasus baru yang sebanyak-banyaknya selama 2 bulan terakhir ini,” paparnya.


Upaya-upaya yang dilakukan dalam 2 bulan terakhir tidak sia-sia, 18 kecamatan di kabupaten yang selama ini berada di zona merah berangsur-angsur penyebaran covid-19 melandai dan zona merah berubah menjadi zona orange dan kini sudah 5 kecamatan di kabupaten Bangkalan zona kuning.” “Semoga Covid-19 di wilayah kita terus melandai dan kita segera zona hijau,” ujar Yoyok

Untuk bisa menjadi zona kuning bukan hal yang mudah.dan memerlukan perjuangan yang berdarah-darah. puaskan Yoyok dengan zona kuning ini ? ternyata dia, mantan kepala Puskesmas ini akan terus berjuang dan berupaya untuk melakukan pencegahan dan pemutusan mata rantai Covid-19 di kabupaten Bangkalan seiring dengan masih berlangsungnya pandemi covid-19 yang entah sampai kapan berakhir. (hib/shb)