HEADLINEPENDIDIKANTERKINI

Seperti Bermimpi Maba Dari Kalangan Keluarga Tidak Mampu ini Bisa Kuliah di UTM

Pelaksanaan PKKMB UTM

Bangkalan,maduranewsmedia.com– Senyum sumringah terpancar dari raut wajah mahasiswa baru (Maba) dari kalangan keluarga tidak mampu saat mengikuti
Masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Dari 4.357 maba yang tengah mengikuti PKKMB ada maba yang datang dari keluarga tidak mampu. Mereka masuk  ke satu satunya universitas Negeri di Madura ini secara cuma cuma alias gratis.

Salah seorang maba dari keluarga tidak mampu yang diterima di UTM adalah Mohammad Arinal Haq. Mahasiswa Prodi  pendidikan informatika asal kabupaten Gresik ini memang mengimpikan bisa kuliah di UTM. Anak tukang kebun di salah satu madrasah di kabupaten Gresik ini mengaku seperti bermimpi bisa diterima di kampus impiannya. “Alhamdulillah saya sangat senang diterima di UTM, dan kampus ini memang menjadi impian saya, ” kata Arinal sapaan akrabnya maba yang juga Tahfiz  saat ditemui disela sela PKKMB di kampus UTM, Selasa (08/08/2023)

Arinal yang mendaftar melalui jalur mandiri prestasi ini memilih UTM karena biaya hidupnya terjangkau. “Biaya hidup di kampus ini terjangkau karena ada asrama mahasiswa-nya, ” jelas Arinal.

Arinal salah seorang Maba Tahfiz asal kabupaten Gresik

Maba dari keluarga tidak mampu lainnya
Achmad Thoiful Romdani. Thoif panggilan akrabnya maba prodi Ekonomi Pembangunan asal kabupaten Ponorogo ini mengaku merinding ketika pertama kali menginjakkan kaki nya di kampus UTM. “Saya senang sekali bisa diterima di UTM, waktu saya di UTM saya merinding terharu karena bisa diterima di UTM, bagi saya kulture bukan halangan untuk kuliah di Madura,” terang anak pertama dari 2 bersaudara pasangan Sopan Sopyan dan Fina Yuntafiah ini.

Putra buruh tani Ponorogo ini melihat kemajuan UTM saat ini sangat pesat. “Saat ini saya melihat UTM ini sangat maju, UKM nya  banyak yang berprestasi, mahasiswa juga banyak yang berprestasi, saya ingin menjadi bagian dari kampus ini untuk maju dan berprestasi, ” tuturnya.

Sayyidil Akbar juga salah satu maba dari kalangan keluarga tidak mampu, Akbar biasa dia  dipanggil tidak menyangka bisa diterima di prodi Ilmu Komunikasi UTM. “Saat mendaftar pilihan pertama UTM pilihan kedua Institut Seni Indonesia Jogjakarta. Saya tidak menyangka bisa diterima di unversitas negeri ini karena saingannya banyak, ya kayak dan saya baru pertama ke Madura pas PKKMB ini, ” pungkas Akbar. (min/shb)